Ahlus Sunnah Ternate

Meniti Jalan Generasi As-Salafush Shaalih

Arsip untuk Februari, 2008

Hukum meletakkan atau menggantung lafazh “Allâh” dan “Muhammad” shallallâhu `alayhi wa sallam secara berdampingan di dinding dan selainnya

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 29, 2008

Oleh: Fadhîlatusy Syaikh Muhammad bin Shâlih al-`Utsaimîn

Pertanyaan:

Sering kita melihat pada dinding tulisan lafazh jalalah “Allah” dan di sampingnya lafazh “Muhammad” atau terdapat pada buku dan sebagian mushaf. Apakah tempat untuk lafazh ini benar?

Jawaban:

Tempatnya tidak benar. Karena, hal ini berarti menjadikan Nabi shallallahu `alaihi wasallam sebagai tandingan Allah yang sama dengan-Nya. Jika ada orang yang melihat tulisan ini dan ia tidak tahu nama kedua hal itu, ia akan meyakini bahwa kedua hal itu adalah sama dan serupa. Maka, wajib menghilangkan nama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa | Leave a Comment »

Permisalan Istri yang Buruk dalam Al-Qur’ân

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Di akhirat kelak, setiap manusia akan menuai apa yang ia tanam di dunia. Begitu juga seorang istri. Ia akan menerima balasan sesuai dengan amalannya di dunia. Sebagus apapun suaminya, itu tidak akan memperingannya dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setiap muslimah tentu mendambakan dirinya dapat menjadi istri yang baik, istri yang shalihah, yang dipuji sebagai sebaik-baik perhiasan dunia oleh Ar-Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”1 Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Munakahat & Keluarga, Muslimah | Leave a Comment »

Permisalan Wanita yang Baik bagi Insân Berîmân

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Al-Qur`an telah bertutur tentang dua wanita shalihah yang keimanannya telah menancap kokoh di relung kalbunya. Dialah Asiyah bintu Muzahim, istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran. Dua wanita yang kisahnya terukir indah di dalam Al-Qur`an itu merupakan sosok yang perlu diteladani wanita muslimah saat ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِلَّذِيْنَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ. وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِيْنَ

Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika istri Fir’aun berkata: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.” (Perumpamaan yang lain bagi orang-orang beriman adalah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 11-12) Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Munakahat & Keluarga, Muslimah | Leave a Comment »

Pengadilan Terbuka bagi Penghujat Allâh dan Rasûl-Nya

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari

Ali radhiallahu ‘anhu berkata:

لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya yang menjadi tolak ukur di dalam agama ini adalah akal pikiran niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas dua khufnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud di dalam Sunan-nya no. 162. Guru kami, Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Jami’us Shahih Mimma Laisa fish Shahihaini (1/61) Bab Ma Ja’a Fi Dzammi Ra’yi (Bab Tercelanya Mengutamakan Akal Pikiran): “Hadits ini shahih.” Para perawinya adalah perawi kitab Shahih kecuali Abdu Khair, namun dia ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in sebagaimana dinukilkan di dalam kitab Tahdzibut Tahdzib).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Syarah Hadits | Leave a Comment »

Pembatal-pembatal Keîmânan

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al-Ustâdz Abû Hamzah Yûsuf Al-Atsarî

Di negeri kita, banyak sekali terdapat acara ritual persembahan baik berupa makanan atau hewan sembelihan untuk sesuatu yang dianggap keramat. Seperti di daerah pesisir selatan pulau Jawa, banyak masyarakat memiliki tradisi memberikan persembahan kepada “penguasa” laut selatan. Begitupun di tempat lain, yang intinya adalah agar yang “mbau rekso” berkenan memberikan kebaikan bagi masyarakat setempat. Dilihat dari kacamata agama, acara ini sebenarnya sangat berbahaya, karena bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Iman menurut Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki cabang yang banyak. Di antara cabang-cabang iman tersebut ada yang merupakan rukun, ada yang wajib dan ada pula yang mustahab. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Penyimpangan Makna Tauhîd

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abu Faruq Ayip Syafruddin

Banyaknya praktik kesyirikan yang terjadi di tengah umat menandakan ada yang salah dalam pemahaman umat akan makna tauhid. Terlebih cara memaknainya dilatari sudut pandang kelompoknya masing-masing. Maka yang terjadi tauhid dipahami secara beragam sesuai “selera” masing-masing, kesyirikan bisa dinamakan tauhid dan tauhid malah dihukumi syirik.

Menurut Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam risalahnya, Tsalatsah Al-Ushul, dinyatakan bahwa seagung-agung perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peribadahan. Dan seagung-agung larangan adalah syirik, yaitu menyeru kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bersamaan dengan menyeru (beribadah) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Manhaj | Leave a Comment »

Menyelewengkan Makna Lâ ilâha illallâh, Wujud Penyimpangan Aqîdah

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 27, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Barangkali di antara kita ada yang pernah melontarkan ucapan: “Kenapa sih kita membicarakan permasalahan tauhid terus? Apa tidak ada tema lain yang lebih menarik?” Bagi orang yang belum paham, bisa dimaklumi bila ia mengeluarkan kalimat seperti itu. Namun sangat tidak pantas bila kalimat tersebut muncul dari orang yang telah memahami pentingnya tauhid bagi seorang muslim, yang menunjukkan bahwa ia meremehkan permasalahan yang sangat dijunjung tinggi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para nabi ini.

Telah dimaklumi bahwa poros dakwah para nabi dan rasul, serta sebab mereka diutus adalah untuk tauhidullah (mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam banyak firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Makna Kalimat Tauhîd Lâ Ilâha illallâh

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 26, 2008

Oleh: Ustâdz Hammâd Abû Mu’âwiyah

Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 86)

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Fatwa `Ulamâ’ tentang Boneka

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 25, 2008

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-`Uthaimîn at al.

Tanya:

Ada beragam boneka, di antaranya yang terbuat dari kapas yang memiliki kepala, dua tangan, dan dua kaki. Ada pula yang sempurna menyerupai manusia. Ada yang bisa bicara, menangis, atau berjalan. Lalu apa hukum membuat atau membeli boneka semacam itu untuk anak-anak perempuan dalam rangka pengajaran sekaligus hiburan?

Jawab:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjawab: “Boneka yang tidak detail bentuknya menyerupai manusia/makhluk hidup (secara sempurna) namun hanya berbentuk anggota tubuh dan kepala yang tidak begitu jelas maka tidak diragukan kebolehannya dan ini termasuk jenis anak-anakan yang dimainkan Aisyah radhiallahu ‘anha.

Adapun bila boneka itu bentuknya detail, mirip sekali dengan manusia sehingga seakan-akan kita melihat sosok seorang manusia, apalagi bila dapat bergerak atau bersuara, maka ada keraguan di jiwa saya untuk membolehkannya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa, Pendidikan Anak | Leave a Comment »

Antara Menaati Orangtua dan Suami

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 25, 2008

Oleh: Asy-Syaikh Al-`Allâmah Muhammad Nâshiruddîn Al-Albânî

Pertanyaan:

Seorang wanita yang telah menikah dihadapkan pada dua perintah yang berbeda. Kedua orang tuanya memerintahkan suatu perkara mubah, sementara suaminya memerintahkan yang selainnya. Lantas yang mana yang harus ditaatinya, kedua orang tua atau suaminya? Mohon disertakan dalilnya!

Jawab:

Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjawab: “Ia turuti perintah suaminya. Dalilnya adalah seorang wanita ketika masih di bawah perwalian kedua orang tuanya (belum menikah) maka ia wajib menaati keduanya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa Muslimah, Munakahat & Keluarga, Muslimah | Leave a Comment »

Kayu Ajaib

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 25, 2008

Buletin Jum’at Al-Atsariyyah

Mungkin kita biasa melihat atau mendengar istilah “kayu ajaib” dalam cerita fiktif atau realita nyata. Kayu ajaib identiknya digunakan oleh para tukang sihir yang terlaknat. Namun “kayu ajaib” dalam tulisan kali ini adalah kayu siwak yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat.

Diantara keajaiban kayu siwak, ia mengandung banyak zat-zat yang berfungsi bagi kesehatan gigi, dan mengandung aroma yang mengharumkan bau mulut, walau tak memakai sikat gigi. Silakan coba sendiri; banyak kok dijual dimana-mana.

Lebih ajaib lagi, “kayu ajaib” alias siwak ini bisa mendatangkan ridho Allah -Azza wa Jalla-. Subhanallah, alangkah ajaibnya kayu siwak ini. Mudah didapatkan, ringan dibawa, setiap saat bisa digunakan, murah harganya, oh ternyata bisa mendatangkan ridho Allah. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fiqh & Ibadah, Thibbun Nabawi | Leave a Comment »

Safar dengan Keponakan yang Belum Baligh

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 24, 2008

Asy-Syaikh Abû Abdirrahmân Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi`î

Apakah dibolehkan seorang wanita bepergian dari satu negeri ke negeri lain untuk berobat dengan ditemani anak laki-laki dari saudara perempuannya (keponakan) sementara si anak belum mencapai usia baligh?

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullah menjawab:

“Bila si anak telah mumayyiz maka tidak apa-apa (menjadikannya sebagai mahram dalam safar). Umumnya anak yang telah mencapai usia 12 atau 13 tahun, ia telah mumayyiz. Sehingga tidak apa-apa safar bersamanya bila memang aman dari fitnah. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa, Fatawa Muslimah | Leave a Comment »

Menanti Tanda-tanda Kekuasaan Allâh di Akhir Zaman

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 24, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُوْنَ

“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah oleh kalian sesungguhnya kamipun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158)

Penjelasan Makna Ayat

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata:

“Pada hari datangnya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Rabbmu, yang merupakan kejadian yang luar biasa, yang dengannya diketahui bahwa kehancuran telah demikian dekat, dan kiamat tidak lama lagi. Maka tidak bermanfaat keimanan dari satu jiwa yang sebelumnya tidak beriman atau yang belum membuahkan kebaikan dalam keimanannya, yakni apabila telah dijumpai sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak bermanfaat keimanan seorang yang kafir apabila dia hendak beriman. Tidak pula bermanfaat bagi seorang mukmin yang kurang beramal untuk semakin bertambah keimanannya setelah itu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah, Tafsir Qur'an | Leave a Comment »

Prinsip dasar Islâm – Muhammadur Rasûlullâh

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 23, 2008

Penulis: Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Setelah kita memahami makna syahadat لا إله إلا الله yang mengandung konsekwensi keikhlasan dalam beribadah hanya kepada Allah maka kita bahas pada edisi kali ini tentang syahadat yang kedua yaitu محمداً رسول الله .

Di dalam riwayat lain disebutkan dengan kalimat yang lebih lengkap: وأن محمداً عبدُه ورسولُه “Bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin As-Shamit) yakni persaksian yang diberikan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib yang berasal dari bani Hasyim dari Quraisy dari kalangan Arab dengan dua sifat besar dan mulia yaitu Al-Ubudiyah (kehambaan khusus) dan Ar-Risalah (kerasulan).

Sifat kehambaan ialah meyakini bahwa beliau, shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba Allah yang diciptakan-Nya, milik Allah; yang berarti tidak memiliki sifat ketuhanan, rububiyah atau uluhiyah. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Memahami prinsip dasar Islâm – Lâ ilâha illallâh

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 23, 2008

Penulis: Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Pembahasan edisi kali ini dimulai dari prinsip yang paling mendasar dari ajaran Islam, sebagai pengingat bagi yang lupa, nasehat bagi yang lalai dan meluruskan bagi yang salah dalam memahaminya.

Dalam rangka menjalankan perintah Allah:

فَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ…الذاريات: 55

Maka ingatkanlah, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi kaum muk-minin. (adz-Dzariyat: 55)

Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan: Dari Umar Radiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Tatkala kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut hitam legam, tidak ada padanya tanda-tanda selepas bepergian dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalinya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Salaf dan Salafiyah

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 22, 2008

Syaikh Muhammad Bin Rabi’ Bin Hadi Al-Madkhali

A. Makna Salaf

Kata Salaf sering diucapkan. Maksudnya adalah generasi pertama dari kalangan sahabat dan tabi’in (generasi pasca sahabat) yang berada di atas fitrah (dien/agama) yang selamat dan bersih dengan wahyu Allah. Mereka menyandarkan aqidah kepada Alqur’an dan Assunnah yang suci. Pemikiran mereka belum ternodai dengan pemahaman-pemahaman filsafat asing. Mereka telah berlalu sebelum pengaruh filsafat-filsafat tersebut merusak kaum muslimin. Untuk mengetahui batasan Salaf, maka kita harus mengetahui batasan jaman dan manhaj mereka.

B. Batasan Jaman

Adapun batasan jaman mereka adalah 3 generasi yang pertama yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Manhaj | Leave a Comment »

Mengapa Harus Bermanhaj Salaf

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 22, 2008

Penulis: Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari

Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Manhaj | Leave a Comment »

Ma`had Tahfizh Al-Qura’ân Al-Manshûrah Mujur Membuka Program Pendidikan Tahfizh Al-Qur’ân lir Rijâl wan Nisâ’

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 21, 2008

Yayasan Khidmatus Sunnah
Ma`had Tahfizh Al-Qura’an Al-Manshuroh Mujur

Jl. Tondano RT 01/III Mujur, Kroya Cilacap

Membuka Program Pendidikan Tahfizh Al-Qur’an lir Rijal wan Nisa’

Materi Pelajaran: Hifzhul Qur’an, Tajwid, Aqidah, Manhaj, Fiqh, Bahasa Arab dan Adab

Pembina: Ust. Luqman Ba`abduh, Ust. Muhammad `Umar As-Sewed, Ust. Abdush Shamad

Pengajar: Ust. Tsanin, Ust. Saiful, para Hafizh dan Hafizhah.

Lama pendidikan: 2 tahun Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Info Kajian & Pondok | Leave a Comment »

Hukum wanita berobat kepada laki-laki dan sebaliknya

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 21, 2008

Oleh: Asy-Syaikh Yahyâ bin `Alî Al-Hajûrî

Pertanyaan:

Apa hukumnya seseorang wanita berobat kepada laki-laki dan sebaliknya?

Jawab:

Yang wajib adalah seorang laki-laki berobat kepada laki-laki dan seorang wanita berobat kepada wanita. Tetapi, apabila darurat, maka seorang dokter boleh melihat ke tempat (anggota tubuh) yang diperlukan saja. Demikian pula seorang dokter wanita, apabila tidak ada dokter laki-laki yang memeriksa pasien laki-laki. Dan bagi rumah sakit Islam dan para dokter-dokternya wajib bertakwa kepada Allah sehingga mereka harus menjauhi fitnah-fitnah dan perkara-perkara yang bisa menyampaikan kepadanya, seperti campur baur dengan wanita, berbincang-bincang, dan bersenda gurau bersama sekretaris wanita dan para perawatnya. Ini adalah kerusakan yang besar bagi hati. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa, Fatawa Muslimah | Leave a Comment »

Tauhîd sebagai Pondasi

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 20, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسَةٍ: عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللهُُ، وإِقَامِ الصَّلاَةِ، وإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَالْحَجِّ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Islam dibangun atas lima rukun: Allah Subhanahu wa Ta’ala ditauhidkan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no.8, Kitabul Iman, Bab Du’a`ukum Imanukum, dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 16, Kitabul Iman, Bab Bayani Arkanil Islami wa Da’a`imihil ‘Izhami. Lafadz ini milik Al-Imam Muslim. Juga diriwayatkan oleh Al-Hafidz Al-Mizzi dalam kitabnya Tuhfatul Asyraf bi Ma’rifatil Athraf (7047) menggolongkannya hadits ini dalam hadits-hadits yang Al-Imam Muslim menyendiri dalam periwayatannya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah, Syarah Hadits | Leave a Comment »

Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-`Utsaimîn

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 20, 2008

Al Ustadz Ahmad Hamdani

Nasab (Silsilah Beliau)

Beliau bernama Abdillah Muhammad Bin Shalih Bin Muhammad Bin Utsaimin Al-Wahib At-Tamimi. Dilahirkan di kota Unaizah tanggal 27 Ramadhan 1347 Hijriyah.

Pertumbuhan Beliau

Beliau belajar membaca Al-Qur’an kepada kakeknya dari ibunya yaitu Abdurrahman Bin Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah, hingga beliau hafal. Sesudah itu beliau mulai mencari ilmu dan belajar khat (ilmu tulis menulis), ilmu hitung dan beberapa bidang ilmu sastra.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah menugaskan kepada 2 orang muridnya untuk mengajar murid-muridnya yang kecil. Dua murid tersebut adalah Syaikh Ali Ash-Shalihin dan Syaikh Muhammad Bin Abdil Aziz Al-Muthawwi’ Rahimahullah. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Biografi & Profil Tokoh | Leave a Comment »

Hukum ungkapan “dimakamkan di tempat tinggal terakhir”

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 19, 2008

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-Utsaimîn rahimahullâh

Pertanyaan:

Apa hukum ungkapan “Dimakamkan di tempat tinggal terakhir”?

Jawaban:

Ungkapan ini adalah haram; karena jika kamu mengatakan di tempat tinggal terakhir, itu memberi pengertian bahwa kubur adalah akhir segalanya dan pengertian ini mengandung pengingkaran terhadap hari kebangkitan. Sebagaimana yang diketahui oleh seluruh kaum muslimin bahwa kubur bukanlah akhir segalanya, kecuali bagi orang yang tidak beriman kepada hari akhir. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah, Fatawa | Leave a Comment »

Hukum Ungkapan “Almarhum”

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 19, 2008

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-`Utsaimîn rahimahullâh

Pertanyaan:

Apa hukum ungkapan “Si fulan yang diampuni (al-maghfur lahu) atau “Si fulan yang dirahmati (almarhum)”?

Jawaban:

Sebagian orang mengingkari ungkapan-ungkapan ini dengan mengatakan bahwa kita tidak mengetahui apakah si mayit termasuk orang yang dirahmati dan diampuni atau bukan? Pengingkaran ini bisa benar jika orang yang berkata dengan ungkapan ini berkata dengan maksud mengabarkan bahwa si mayit telah dirahmati dan diampuni; karena kita tidak boleh mengabarkan bahwa si mayit telah dirahmati atau diampuni tanpa ilmu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa | Leave a Comment »

Hukum Membangun Kuburan

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 18, 2008

Oleh: Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz

Pertanyaan:

Saya perhatikan di daerah kami sebagian kuburan dicor dengan semen seukuran panjang 1 m dan lebar 1/2 m, dan dituliskan padanya nama mayit, tanggal wafatnya, dan sebagian kalimat seperti: “Ya Allah berilah rahmat kepada Fulan bin Fulan…”, demikian. Apa hukum perbuatan semacam ini?

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjawab:

Tidak boleh membangun pada kubur, baik dengan cor ataupun yang lain, demikian pula menulisinya. Karena terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang larangan membangun di atas kuburan dan menulisinya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah, Fatawa | Leave a Comment »

Resensi Buku Memang Harus Beda antara SALAFIYYAH dengan HIZBIYYAH (Sebuah Bantahan Buku Beda Salaf dengan “Salafi”)

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 17, 2008

MEMANG HARUS BEDA

antara SALAFIYYAH dan HIZBIYYAH

(Harusnya Beda, Kenapa Sama?)

الكواشف الجلية في الرد على كشف الحقائق الخفية

Sebuah Bedah Ilmiah Membongkar Penyimpangan Buku Beda Salaf dengan “Salafi

(Ditulis oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Atsariy)

Pergolakan antara tentara kebenaran, dan tentara kebatilan akan senantiasa berjalan sampai akhir zaman. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Manhaj, Resensi & Review | Leave a Comment »