Ahlus Sunnah Ternate

Meniti Jalan Generasi As-Salafush Shaalih

Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah?

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada November 2, 2009

Oleh: Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Idham Ruray

(Mantan Kader & Da’i Wahdah Islamiyah Makassar)

-حفظه الله تعالى وغفر له ولوالديه ولجميع المسلمين-

Editor : Al-Ustadz Abdul Qodir
Muroja’ah : Al-Ustadz Dzulqarnain

[Kirimkan Ke Teman]

Pada risalah ringkas ini -Insya Allah- saya akan menjelaskan latar belakang kenapa saya keluar dari Wahdah Islamiyah (WI) yang berpusat di Makassar. Dengan harapan, semoga yang sedikit ini bisa menjadi nasehat kepada mereka yang masih setia bersama WI secara khusus, dan kepada kaum Muslimin secara umum.

Namun risalah yang ringkas ini bukanlah sebuah rincian ilmiah yang disertai dalil-dalil dan penjelasan para ulama tentang penyimpangan-penyimpangan WI. Tetapi hanyalah merupakan pengungkapan bukti-bukti yang dilihat oleh mata kepala dan didengar oleh telinga, baik itu berupa penyimpangan itu sendiri, maupun sekedar syawahid (penguat)nya. Sebab rincian pembahasan ilmiahnya telah sangat jelas dipaparkan oleh beberapa asatidzah (para ustadz). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Manhaj | Leave a Comment »

Download Ceramah Agama MP3: Peringatan dari Bahaya Syirik

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Oktober 18, 2009

syirik1

Download Ceramah Agama MP3 dengan judul: Peringatan dari Bahaya Syirik

Pemateri: Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray hafizhahullah

Disampaikan pada Dauroh Ahlus Sunnah Manado 1428 H di Masjid Raya Ahmad Yani Manado

Pembahasan mencakup beberapa poin berikut:

  1. Bersyukur dengan nikmat menuntut ilmu agama
  2. Pentingnya mengetahui bahaya syirik
  3. Pengertian Syirik
  4. Sejarah kesyirikan pada ummat manusia
  5. Bahaya syirik
  6. Perbedaan syirik  besar dan syirik kecil
  7. Beberapa contoh syirik di sekitar kita
  8. Pengharaman semua sarana yang mengantarkan kepada syirik

Link Download: http://www.salafishare.com/id/33ILHTFLU0PO/03.Peringatan dari Bahaya Kesyirikan.mp3

Album: Dauroh Manado 1428 H

Tasjilat: Almadini Jakarta

Alamat: Gedung IJW Jalan Proklamasi No. 91, Menteng, Matraman Jakarta, HP.  0813-166-23-083, Telp. 021-9565-7063

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Ringkasan Beberapa Faidah Ilmiah Seputar Pernikahan Dalam Keadaan Hamil

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Juni 20, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ringkasan Beberapa Faidah Ilmiah Seputar Pernikahan Dalam Keadaan Hamil

(dari Tanya Jawab Kelas Takhasshus Rabu 17 Juni 2009 ba’da zhuhur bersama Al-Ustadz Abdul Barr hafizhahullah di Al-Madrasah As-Salafiyah, masjid Fatahillah Depok):

Faidah Pertama: Laki-laki dan wanita yang berzina hendaklah segera bertaubat kepada Allah Ta’ala dan tidak boleh melangsungkan pernikahan sebelum bertaubat. Allah Ta’ala berfirman:

“Laki-laki pezina tidak menikahi melainkan perempuan pezina atau perempuan musyrik; dan perempuan pezina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman”. (An-Nur: 3).

( Adapun syarat-syarat taubat bisa dilihat di sini: http://kajiansalafy ui.wordpress. com/2009/ 06/07/taubat/ )

Faidah Kedua: Berdasarkan ayat di atas, apakah boleh seorang Muslim atau Muslimah yang berzina –na’udzu billahi min dzalik- untuk menikahi pezina dan orang musyrik?

Jawab: Tidak boleh, sebab ayat tersebut bukanlah menunjukkan pembolehan menikahi pezina atau seorang musyrik jika sama-sama pezina, tetapi maksud ayat tersebut justru sebagai bentuk Taubikh (celaan yang keras) terhadap para pezina.

Faidah Ketiga: Bolehkah wanita yang hamil dari zina menikah sebelum melahirkan?

Jawab: Boleh, dan merupakan pendapat Jumhur Ulama, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Adapun firman Allah Ta’ala: ”Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya” (Ath-Thalaq: 4), maka sesuai konteks ayat ini bahwa wanita-wanita yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah yang hamil dari pernikahan yang sah. Adapun yang hamil dari zina, maka tidak ada kemulian bagi airnya pezina.

Faidah Keempat: Haruskah wanita yang hamil dari zina menikah dengan bapak biologis dari anak yang dikandungnya ataukah boleh dengan selainnya?

Jawab: Setiap dari keduanya boleh menikahi wanita yang hamil dari zina dengan syarat:

Pertama: taubat dari dosa zina tersebut.

Kedua: setelah menikah tidak boleh berhubungan suami istri sebelum wanita tersebut melahirkan, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya ke tanaman orang lain.”. (HR. Abu Daud).

Faidah Kelima: Apabila wanita yang hamil dari zina menikah dengan bapak biologis dari anak yang dikandungnya apakah boleh berhubungan suami istri setelah menikah?

Jawab: Tidak boleh sampai melahirkan, karena secara syar’i anak yang dikandungnya bukanlah anak dari bapak biologisnya karena dihasilkan dari hubungan yang haram, maka tidak boleh mencampur air yang haram dengan yang halal.

Faedah keenam: Tidak boleh menasabkan anak hasil zina kepada bapak biologisnya karena anak tersebut bukanlah anaknya secara syar’i.

Faidah Ketujuh: Apabila seorang istri berzina –na’udzu billahi min dzalik- dan hamil dari perzinaan tersebut, maka secara syar’i milik siapakah anak yang dikandungnya?

Jawab: Milik suaminya yang sah, meskipun secara biologis dihasilkan dari zina, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Anak itu miliknya (pemilik) kasur dan bagi pezina adalah batu (dirajam)”. (Muttafaqun’alaihi).

Faedah Kedelapan: Apakah anak hasil zina ikut menanggung dosa orang tuanya?

Jawab: Tidak sama sekali, karena seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidaklah seorang yang berbuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain”. (Al-Anfal: 164).

Semoga bermanfaat, barokallahu fiikum.
(Dari Milis An-Nashihah).

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Pelajaran dari Tragedi Palestina

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Januari 19, 2009

Sebab Kelemahan Kaum Muslimin

(Pelajaran dari Tragedi Palestina)

Abu Abdillah Sofyan

Sejatinya kaum Muslimin adalah ummat yang kuat dan mulia serta berwibawa dan disegani oleh orang-orang kafir. Sebagaimana hal ini dengan jelas ditunjukkan dalam sejarah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu’anhum serta beberapa generasi ummat Islam setelahnya yang tetap konsisten dalam berpegang teguh dengan Sunnah Beliau shallallahu’alaihi wa sallam. Bahkan sebulan sebelum Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan pasukannya sampai di tempat musuh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan dalam hati musuh rasa takut dan gentar terhadap kaum Muslimin. Dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ

“…Aku ditolong (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan kegentaran pada musuh dari jarak sebulan perjalanan..” (Muttafaqun’alaihi).

Namun apa yang kita saksikan hari ini, sungguh jauh kenyataan kaum Muslimin dari kejayaan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu’anhum, sehingga sangat layak untuk kita bertanya-tanya, masihkah kita berjalan di atas jalan Beliau shallallahu’alaihi wa sallam dalam beragama, yang dengan sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan dan menolong kaum Muslimin!?

Tragedi Palestina saat ini dengan korban lebih dari 1000 kaum Muslimin yang meninggal dan lebih dari 5000 orang terluka akibat pembantaian kaum Yahudi, pada saat yang sama milyaran kaum Muslimin yang tersebar dari tanah Arab sampai ke seluruh dunia, tidak ada yang mampu untuk menyelamatkan saudara-saudaranya di bumi Palestina dengan segera, dan ini hanyalah salah satu gambaran dari akibat kelemahan kaum Muslimin. Dimanakah kini Umar bin Khattab yang dulu membebaskan Palestina dari tangan pasukan kuffar!? Dimanakah Khalid bin Walid dan Sa’ad Bin Abi Waqqash!? Dimanakah para pahlawan yang dibina oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang konsisten dengan sunnah Beliau!? Adakah diantara kita yang masih mengikuti jalan mereka!?

Padahal, kalau kita mau melihat kembali kepada Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sesungguhnya Beliau shallallahu’alaihi wa sallam telah menjelaskan hakekat kelemahan dan terhinanya kaum Muslimin serta solusi untuk kembali kuat dan mulia.

Dalam hadits Tsauban radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

)يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا(. فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ )بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ( فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ )حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ(

“Hampir-hampir ummat-ummat (yang kafir) menguasai kalian seperti berkerumunnya orang-orang memperebutkan makanan”, maka berkatalah seseorang, “apakah karena sedikitnya kita (kaum Muslimin) ketika itu?”, Beliau bersabda. “bahkan kalian pada waktu itu banyak jumlahnya, akan tetapi kalian seperti buih banjir, dan Allah menghilangkan kewibawaan kalian dari hati-hati musuh kalian serta melemparkan ke dalam hati-hati kalian kelemahan”, maka berkata seseorang, “wahai Rasulullah apakah penyebab kelemahan tersebut?”, Beliau bersabda, “cinta dunia dan benci pada kematian”. (HR. Abu Daud 4/4299, ‘Aunul Ma’bud 11/273, dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shohihah no.958).

Dari hadits ini kita dapat mengambil pelajaran bahwasanya di antara sebab kehinaan kaum Muslimin adalah kecintaan kepada dunia. Sehingga dengan sebab itu, lalailah mereka dari mengingat Allah Ta’ala, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, bahkan terkalahkan kecintaan mereka kepada Allah Ta’ala oleh kecintaan kepada dunia. Berkata al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, “tidak akan masuk di dalam hati seseorang kecintaan kepada Allah Ta’ala jika ada dalam hatinya kecintaan kepada dunia, kecuali seperti masuknya onta ke lubang jarum”. (Al Fawaa-id, hal. 98).

Juga dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘inah, dan kalian memegang ekor-ekor sapi, serta ridho dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, maka Allah Ta’ala akan menimpakan kehinaan atas kalian, Dia tidak akan mengangkat kehinaan tersebut dari kalian, sampai kalian kembali kepada agama kalian”. (HR. Abu Daud 3/3464, dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shohihah no.11).

Berkata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, “dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang solusi dan obat atas musibah yang menimpa kaum Muslimin berupa kehinaan yang telah menguasai seluruh kaum Muslimin, (tidak ada yang selamat dari kehinaan ini) kecuali sedikit dari mereka yang senantiasa berpegang teguh dengan agama. Sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits ini penyakit yang menimpa kaum Muslimin yang dengan sebab itu Allah Ta’ala menghinakan mereka, kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka obat dan jalan selamat dari kehinaan tersebut”.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ini tiga sebab kehinaan kaum Muslimin. Pertama, melakukan jual beli dengan cara ‘inah. Ini adalah salah satu bentuk jual beli yang terlarang dalam Islam karena mengandung riba’ di dalamnya. Padahal betapa banyak praktek-praktek riba’ yang kini merebak di tengah-tengah kaum Muslimin. Diantara yang paling banyak tersebar adalah riba’ qordh, yaitu riba’ dalam hutang piutang yang distilahkan dengan “bunga”, yaitu seorang meminjam dengan syarat dikembalikan melebihi dari jumlah pinjamannya, atau seorang pemberi pinjaman mengambil manfaat dari piutang yang dia berikan kepada peminjam.

Dan yang penting untuk dipahami –sebagaimana yang dijelaskan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah- bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan jual beli dengan cara ‘inah ini hanyalah sebagai contoh, bukan pembatasan. Yaitu satu contoh dari sekian banyak pelanggaran syari’ah dan perkara-perkara haram yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Padahal masih banyak penyimpangan-penyimpangan dalam agama yang dilakukan oleh kaum Muslimin hari ini yang lebih besar dosanya dari riba’, seperti mendatangi kuburan-kuburan untuk berdo’a kepada para penghuni kubur tersebut, mempercayai perdukunan dan peramalan, dan lain-lain yang termasuk kekufuran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Maka bagaimana mungkin kaum Muslimin akan ditolong oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam al-Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid menjelaskan diantara hikmah yang bisa dipetik dari kisah dipukulnya pasukan kaum Muslimin pada perang Uhud dengan satu pukulan yang keras oleh kaum Musyrikin adalah karena ketidaktaatan pasukan pemanah terhadap satu saja perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu untuk tetap berada di atas bukit. Namun mereka turun dari bukit tersebut karena mengira kaum Muslimin telah menang dan mereka lupa dengan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Maka bagaimana mungkin pada hari ini kaum Muslimin akan menang melawan orang-orang kafir dalam keadaan mereka tidak mentaati banyak sekali perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam!?

Oleh karenanya, solusi dalam hadits ini, yang sungguh sangat mencocoki keadan kaum Muslimin hari ini yang banyak menyelisihi perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, adalah kembali kepada agama Allah Ta’ala, bukan kembali (secara langsung) ke medan jihad, tetapi persiapan keimanan dan juga persiapan fisik.

Terkhusus untuk masalah Palestina, para Ulama Ahlus Sunnah seperti Asy-Syaikh Bin Baz dan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahumallah telah menasehatkan kaum Muslimin Palestina sejak lama agar mereka berdamai dangan Yahudi atau mereka hijrah ke tempat yang lebih aman. Agar dengan adanya perjanjian damai tersebut atau dengan hijrahnya mereka ke tempat aman, maka mereka lebih punya kesempatan untuk menyiapkan kekuatan keimanan dan kekuatan fisik untuk berjihad melawan Yahudi dan juga demi menjaga keselamatan jiwa-jiwa kaum Muslimin yang belum siap melawan kekuatan Yahudi yang didukung oleh kekuatan kafir Internasional dan telah terbukti sebelumnya tidak mampu dikalahkan oleh koalisi Arab sekalipun.

Sebagaimana strategi ini digunakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tatkala Beliau shallallahu’alaihi wa sallam berdamai dengan kaum Musyrikin, orang-orang yang lebih buruk aqidahnya dari Yahudi, yaitu pada perjanjian Hudaibiyah, dan Beliau shallallahu’alaihi wa sallam telah hijrah ke Madinah, meninggalkan kota Makkah, bumi yang lebih mulia dari bumi Palestina, semua itu demi mempersiapkan kekuatan kaum Muslimin dengan kekuatan iman dan kekuatan fisik.

Namun sangat disayangkan, nasehat para Ulama Ahlus Sunnah, oleh Hizbiyyun (fanatikus golongan) malah dituduh sebagai sikap lemah dan tunduk pada Yahudi, bahkan lisan-lisan jahat mereka sampai menuduh para Ulama Ahlus Sunnah sebagai antek-antek Zionis, yang tidak mengerti waqi’, yang ilmunya hanya sebatas pembahasan haid dan nifas kata mereka. Maka terjadilah apa yang terjadi pada hari-hari ini. Membuktikan kepada kita, para Ulama Ahlus Sunnah, dengan ilmu yang mereka miliki lebih mengerti tentang fiqhul waqi’ dari pada kalian wahai Hizbiyyun Harokiyyun!

Kedua, kesibukan mengumpulkan harta dunia yang melalaikan dari kewajiban beribadah kepada Allah Ta’ala. Hal ini diungkapkan dengan kinayah oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “jika kalian telah memegang ekor-ekor sapi, dan ridho dengan pertanian”. Inilah sesungguhnya salah satu sebab kehancuran kaum Muslimin, ketika mereka lalai dari sebagian bahkan seluruh kewajiban mereka dalam beribadah kepada Allah Ta’ala disebabkan karena kesibukan mengejar dunia yang sedikit ini dan berlomba-lomba dalam kemewahan, padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan perkara ini dalam sabda Beliau:

مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

“Bukanlah kefakiran yang aku takuti menimpa kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah dibentangkannya dunia atas kalian sebagaimana telah dibentangkan atas ummat sebelum kalian, maka kalianpun berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka melakukannya, sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Ketiga, meninggalkan jihad. Perkara ini juga hanyalah merupakan contoh dari berbagai kewajiban agama yang banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Sedangkan kewajiban agama yang paling tertinggi adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan beribadah hanya kepada-Nya, mengikhlaskan agama hanya bagi-Nya dan menjauhi segala macam bentuk kesyirikan dan kekufuran.

Maka ketika penyakit-penyakit ini telah mewabah dalam tubuh kaum Muslimin, Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan kehinaan kepada mereka sebagai akibat dari kezhaliman mereka sendiri. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Penyayang dan Maha Hikmah, melalui lisan Nabi-Nya yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam, sesungguhnya telah menjelaskan solusi untuk kembali kepada kejayaan kaum Muslimin dan terangkatnya kehinaan ini dengan “kembali kepada agama-Nya”.

Sedangkan ajaran agama yang diinginkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bukanlah yang telah disimpangkan oleh kelompok-kelompok sesat, tetapi agama yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yang kemudian dipahami dengan baik dan diamalkan oleh para sahabat rhadiyallahu’anhum. Yaitu ajaran yang bersumberkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan pemahaman para Sahabat rhadiyallahu’anhum.

Hal ini ditegaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّة , وَتَفْتَرِق أُمَّتِي عَلَى ثَلَاث وَسَبْعِينَ مِلَّة , كُلّهمْ فِي النَّار إِلَّا مِلَّة وَاحِدَة , قَالُوا : مَنْ هِيَ يَا رَسُول اللَّه ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي “

“Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi 72 golongan, dan ummatku akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu”, para sahabat bertanya, “siapakah mereka wahai Rasulullah?”, Beliau bersabda, “yang mengikuti aku dan para sahabatku”. (HR. Tirmidzi no. 2641, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah no.171 pada tahqiq kedua).

Hadits ini juga menjelaskan sebab dan solusi atas perpecahan ummat Islam, bahwa perpecahan ummat dikarenakan ketika sebagian mereka mengikuti selain jalannya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu’anhum. Maka solusinya adalah kembali ke jalan tersebut. Sedangkan persatuan yang Allah Ta’ala inginkan adalah persatuan di atas kebenaran, tidak sekedar asal ngumpul.

Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk kembali kepada agama Allah Ta’ala, yaitu dengan kembali mempelajari dan mengamalkan ilmu al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan pemahaman Sahabat radhiyallahu’anhum. Wallohul Musta’an.

(Syarah hadits kedua, yakni hadits Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma disarikan dari makalah Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah yang berjudul, “Asbaabu Tasalluthidz Dzulli ‘alal Muslimin [filisthiina-mitsaalan]”, sebab-sebab tertimpanya kehinaan atas kaum Muslimin -Palestina sebagai misal-).

Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »

Takhoshshus Ilmu Syar’i Al Madrasah As Salafiyyah Depok

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Januari 9, 2009

AL MADRASAH AS SALAFIYYAH

Jl. Saidan No.24 Tanah Baru, Beji, Depok Telp. (021) 7757586

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan mengharap ridho dari Allah Subhanahu Wata’ala, Al Madrasah As Salafiyyah Depok membuka kesempatan kepada seluruh Ikhwan untuk mengikuti Program Pendidikan Lanjutan (TAKHASUS) 1430 H / 2009.

Program ini diperuntukkan bagi Ikhwan yang memiliki semangat belajar tinggi dan mempunyai kemampuan bahasa Arab dasar. Lama pendidikan yang direncanakan 1 tahun.

Materi:

Bahasa Arab, Aqidah, Fiqh, Tauhid, Hadits, Ushul Fiqh, Qowaid Fiqhiyah, Ushul Tafsir, Ushul Hadits, dll.

Pengajar:

Al-Ustadz Abdul Baar, Al-Ustadz Jafar Salih, Al-Ustadz Ayub.

Syarat:

  1. Telah menguasai bahasa Arab dasar
  2. Mendapat ijin dari orang tua
  3. Lulus tes

Pendaftaran :

Mulai tanggal 5 Januari 2009 ditutup tanggal 24 Januari 2009.

Tempat : Ma’had Al Madrasah As Salafiyyah Depok, Jl. Saidan no.24 Tanah Baru Beji Depok

Telepon : (021) 7757586

Contact Person : Dzulfikri 081210750874 Kunawi 08561353440

Tes akan dilaksanakan tanggal 28 – 29 Januari 2009.

Mulai Pendidikan Insya Allah tanggal 9 Februari 2009.

Keterangan tambahan :

  1. Kapasitas santri yang diterima dan tinggal di pondok : 20 orang.
  2. Santri yang tinggal di pondok membayar iuran untuk keperluan harian santri sebesar Rp. 50,000 per bulan
  3. Dibuka kesempatan juga bagi Ikhwan yang tinggal di luar pondok untuk mengikuti program ini dengan syarat mendaftarkan diri dan lulus tes

Mudir Al Madrasah As Salafiyyah Depok

Al-Ustadz Abdul Barr

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Peringatan Dari Bahaya Syirik

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada September 19, 2008

PERINGATAN DARI BAHAYA SYIRIK

Oleh : Abu Abdillah Sofyan Chalid Bin Idham Ruray

Ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hikmah dari penciptaan manusia dan jin, hal ini ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya :

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi–Ku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” (QS Adz-Dzariyat:56-58).

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahuLlah dalam menjelaskan tafsir ayat ini : “Adapun makna ayat ini adalah, bahwa Allah menciptakan makhluq semata-mata untuk beribadah kepada-Nya saja, tidak boleh menyekutukan-Nya. Barangsiapa yang mentaati perintah-Nya (dan menjauhi larangan-Nya), maka Dia akan membalasnya dengan balasan yang paling sempurna, sedangkan yang bermaksiat kepada-Nya, maka Dia akan mengadzabnya dengan adzab yang sangat pedih. Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa Dia tidak butuh kepada makhluq, bahkan makhluqlah yang butuh kepada-Nya dalam segala keadaan mereka, Dia-lah Allah Pencipta dan Pemberi rezeki mereka”. (Fathul Majid/19).

Adapun perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tertinggi adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata, sedangkan larangan-Nya yang paling tercela adalah syirik (menyekutukan Allah), yaitu menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah, bertawakkal pada selain-Nya, menyembelih untuk selain-Nya, percaya pada ramalan dan perdukunan, berkeyakinan ada pencipta, pemberi rezeki, penentu hukum, yang memberikan manfaat dan mudharat, yang mengetahui perkara ghaib, selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini hanyalah sebagian contoh praktek kesyirikan yang ironisnya perbuatan-perbuatan tersebut ternyata banyak dilakoni oleh sebagian kaum Muslimin sendiri, bahkan sebagian perbuatan syirik yang mereka lakukan lebih parah dari syiriknya orang-orang musyrik di zaman jahiliyah dahulu, dimana mereka (sebagian musyrikin jahiliyah) hanya menyekutukan Allah Ta’ala pada saat senang, dikala susah mereka mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka menyekutukan-Nya”. (QS Al-‘Ankabut:65).

Sedangkan sebagian orang yang menyekutukan Allah Ta’ala pada hari ini, melakukannya saat senang maupun susah. Kita tentu masih ingat, gempa Yogya beberapa waktu lalu yang membuat kita sedih, namun sesungguhnya yang lebih menyedihkan lagi adalah apa yang diberitakan oleh beberapa media massa bahwa sebagian orang yang tertimpa musibah gempa tersebut membuat janur kuning untuk dililitkan ke tubuh mereka yang katanya sebagai tolak bala’, sebagian lainnya membuat sesajen untuk jin ratu laut selatan juga sebagai tolak bala’. Kasus lain, pada musibah pesawat Adam Air di Sulsel, sebagian orang menyembelih hewan untuk kuburan tertentu dengan harapan penghuni kuburan tersebut dapat menolong mereka dalam pencarian pesawat yang hilang, bahkan di wilayah kerajaan Islam Ternate dan Tidore terdapat suatu upacara syirik yang diwariskan secara turun-temurun yang disebut ‘selai jin’, yaitu upacara permohonan kepada jin agar dapat menyembuhkan orang-orang yang sakit ataupun permohonan lainnya. Ini semua adalah perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena yang memberikan manfaat dan mudarat, yang mampu menyembuhkan penyakit, yang mampu menolak bala’ hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikian pula permohonan do’a adalah merupakan suatu bentuk ibadah, jika dimohonkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itulah kesyirikan.

Sebagian orang menyangka bahwa kesyirikan hanya terjadi pada zaman primitif saja, atau hanya pada masyarakat yang masih sangat sederhana tingkat berpikir dan kemajuan teknologinya. Sangkaan ini justru diingkari oleh kenyataan yang ada, bukankah negara-negara maju yang teknologinya sangat hebat adalah negara-negara yang didominasi dengan orang-orang musyrik yang kafir kepada Allah Ta’ala!? Bukankah dua negeri yang penduduknya paling banyak di dunia mayoritasnya adalah kaum musyrikin!?

Demikianlah keadaan manusia pada umumnya dan sebagian kaum Muslimin pada hari ini yang masih sangat dekat dengan perbuatan-perbutan syirik. Oleh karenanya sudah seharusnya setiap Muslim menasehati keluarganya, sahabatnya dan semua saudaranya agar menjauhi perbuatan-perbuatan syirik serta menjelaskan betapa bahayanya perbuatan syirik ini.

Bahaya Syirik

Adapun diantara bahaya perbuatan syirik adalah sebagai berikut :

Pertama: Syirik adalah dosa dan kezhaliman yang terbesar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata pada anaknya saat ia memberi pelajaran padanya, “Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan-Nya adalah kezhaliman yang besar”.” (QS. Luqman:13).

Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyalLahu’anhu mengatakan, aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab: “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, sedangkan Dia yang menciptakanmu…”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Rasulullah shallallahhu’alaihi wa sallam juga mengingatkan para Sahabatnya akan bahaya syirik ini dalam sabdanya: “Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa yang paling besar?”, kami (Sahabat) mengatakan: “Tentu wahai Rasulullah”, lalu beliau mengatakan: “(Dosa yang paling besar) adalah menyekutukan Allah dan (selanjutnya) durhaka pada kedua orang tua…”. (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Bakrah radhiyalLahu’anhu).

Kedua: Syirik adalah penghapus amalan seseorang, apakah seorang muslim (awalnya) maupun kafir, jika berbuat syirik maka terhapuslah semua pahala yang pernah ia dapatkan dan kebaikan yang pernah ia kerjakan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, “Jika kamu menyekutukan (Allah), niscaya akan terhapus amalmu dan pasti kamu termasuk orang–orang yang merugi”.” (QS. Az-Zumar:65).

Ketiga: Jika seorang mati sebelum ia bertaubat dari dosa syirik, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah mengampuni dosanya untuk selama-lamanya, sebagaimana firman-Nya :

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa yang lebih ringan dari syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa menyekutukan Allah, sungguh ia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.” (QS. An-Nisa’:116).

Keempat: Seorang yang mati dalam keadaan musyrik diharamkan masuk surga, maka tempat kediamannya kelak pasti di neraka jahannam dan kekal di dalamnya untuk selama-lamanya ia merasakan adzab yang sangat pedih, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, sungguh Allah haramkan baginya surga dan tempatnya adalah neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah:72).

Kelima: Orang-orang musyrik adalah makhluq yang paling hina yang pernah tercipta di dunia dan akhirat, bahkan mereka lebih hina dari binatang ternak, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” (QS Al-Bayyinah:6)

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqon:44).

Keenam: Syirik adalah sebab kebinasaan dan musibah serta malapetaka yang menimpa manusia, bahkan sebab kehancuran alam semesta ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan mereka berkata, “(Allah) Yang Maha Penyayang mempunyai anak.” Sesungguhnya (dengan perkataan itu) kamu telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, serta gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Penyayang mempunyai anak.” (QS. Maryam:88-91)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan, Beliau ditanya, wahai Rasulullah apakah tujuh perkara yang membinasakan itu? Beliau menjawab: Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba’, lari dari medan perang (jihad), menuduh berzina wanita mu’minah padahal dia tidak tahu menahu (dengan zina tersebut)”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh radhiyalLahu’anhu).

Ketujuh: Diharamkan seorang musyrik untuk menikahi wanita muslimah, demikian pula sebaliknya, seorang muslim diharamkan menikahi wanita musyrikah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqoroh:221).

Kedelapan: Tidak boleh mendoakan orang yang mati dalam keadaan musyrik meskipun keluarga terdekat, bahkan keluarga para Nabi sekalipun, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendoakan pamannya Abu Thalib meski jasa besarnya dalam membela Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dilarang untuk mendoakan bapaknya yang mati musyrik (lihat QS. At-Taubah:113-114 dan sababun nuzulnya dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 2/518).

Inilah sebagian saja dari banyaknya bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan syirik, maka himpunlah hati dan pikiran Anda untuk menghayati dan memahami betapa besar kemarahan Allah Tabaraka wa Ta’ala terhadap kesyirikan dan pelakunya, oleh karenanya tidaklah pantas seorang Muslim menganggap bahwa ini adalah masalah sepele.

Benar bahwa ummat Islam menghadapi masalah-masalah yang multi kompleks, mulai dari masalah politik, ekonomi, pemerintahan, bahkan sampai pada penindasan kaum Muslimin pada sebagian negeri Islam oleh orang-orang kafir, akan tetapi kalau kita mau memahami agama yang mulia ini berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, maka tahulah kita bahwa problematika yang sesungguhnya jauh lebih besar dari itu semua adalah permasalahan aqidah tauhid, karena jika ia tercemari dengan kotoran-kotoran syirik dan noda-noda kekufuran maka bahaya yang mengancam ummat Islam bahkan seluruh ummat manusia tidak saja di dunia ini, tetapi sampai di akhirat kelak, bahkan inilah sebab dan pokok seluruh masalah ummat manusia.WaLlahul Musta’an.

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Taubat dari Perbuatan Zinâ

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Maret 5, 2008

Oleh: Al-Ustâdz Abû Abdillâh Muhammad Al-Makassarî

Ada pemuda-pemudi melakukan zina beberapa waktu yang lalu. Keduanya ingin bertaubat. Pertanyaan:

a. Bagaimana taubatnya?

b. Haruskah keduanya menikah?

c. Bagaimana kalau orang tua wanita tetap tidak setuju?

d. Bagaimana nanti status anak keduanya?

Mohon bantuannya supaya mereka berdua dapat kembali ke jalan yang benar.

Ahmad Abdullah
ahm…@plasa.com

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Munakahat, Muslimah, Tanya Jawab | Leave a Comment »

Nikahnya Wanita Hamil karena Zinâ

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Maret 4, 2008

Oleh: Asy Syaikh Khalid Ar Raddadi

Pertanyaan:

Apakah sah pernikahan seorang wanita yang hamil karena zina dengan laki-laki yang berzina dengannya atau dengan selain laki-laki yang berzina dengannya?

Jawab:

Permasalahan ini berkaitan dengan dengan pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang hamil karena zina baik itu dengan laki-laki yang menzinainya atau dengan selain laki-laki yang menzinainya, maka permasalahan ini mengandung hal-hal sebagai berikut ini, pertama, bagi wanita yang berzina ini Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):

“Laki-laki yang berzina itu tidak menikahi KECUALI wanita yang berzina atau wanita musyrikah. Dan wanita yang berzina itu tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina atau seorang laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman.” (Surat An-Nuur: 3) Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa, Fatawa Muslimah, Munakahat, Munakahat & Keluarga, Muslimah | Leave a Comment »

Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Maret 4, 2008

Oleh: Al-Ustâdz Abû Muhammad Dzulqarnain

  1. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil?
  2. Bila sudah terlanjur menikah, apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu, kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu?
  3. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)?

Kami jawab -dengan meminta pertolongan dari Allah Al-’Alim Al-Hakim sebagai berikut:

1. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam:

Satu: Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil.

Dua: Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal ‘iyadzu billah- mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Haidh, Munakahat, Munakahat & Keluarga, Muslimah, Tanya Jawab, Thalaq | Leave a Comment »

Kitab Fadha`il Al-A’mal dalam Timbangan As-Sunnah

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Maret 3, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Bagi yang mengenal Jamaah Tabligh, kelompok yang ‘berdakwah’ keliling dari masjid ke masjid, besar kemungkinan akan mengetahui Kitab Fadha`il Al-A’mal, buku wajib yang dipegangi dan dijadikan rujukan kelompok tersebut dalam ‘berdakwah’. Bagi para ‘pendakwah’ mereka ataupun orang-orang yang ‘berlatih dakwah’ bersamanya, kedudukan kitab itu di sisi mereka setara dengan Kitab Shahih (Al-Bukhari Muslim).

Membicarakan Fadha`il Al-A’mal, kitab yang ditulis Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, tentu tidak bisa dilepaskan dari pembahasan sebuah kelompok shufiyyah yang para pengikutnya kini semakin menjamur di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kelompok inilah yang dikenal dengan nama Jamaah Tabligh. Adanya hubungan yang erat di antara keduanya karena Jamaah Tabligh menjadikan kitab ini sebagai salah satu sandaran dalam mengamalkan rutinitas harian mereka, baik dibaca di beberapa waktu sehabis shalat fardhu atau menjadikannya sebagai ta’lim akhir malam sebelum tidur, tergantung kesempatan yang diberikan masjid setempat. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah, Firaq, Resensi & Review | Leave a Comment »

Tauhîd Wahai Para Dâ`i!

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Maret 2, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi

Dakwah merupakan ibadah yang agung. Sayangnya, dakwah telah banyak disalahgunakan untuk membungkus kampanye politik dalam rangka mencari pengikut, merekrut simpatisan dan kader partai, atau sekedar mencari dunia. Di sisi lain, ada da’i yang mengkhususkan pada persoalan-persoalan politik hingga melupakan hal-hal mendasar dalam Islam. Lalu bagaimanakah sesungguhnya dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu?

Terlalu banyak seruan atau ‘dakwah’ ilallah (menuju Allah) yang kita jumpai di sekeliling kita. Masyarakat pun dengan mudahnya mengatakan bahwa ‘dakwah itu semuanya sama’. Benarkah? Lalu manakah seruan yang benar yang akan mendekatkan kepada Allah? Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Shalawat-Shalawat Bid’ah

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Maret 1, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi

Sudah bukan rahasia lagi kalau di tengah-tengah kaum muslimin, banyak tersebar berbagai jenis shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Shalawat-shalawat itu biasanya dibuat oleh pemimpin tarekat sufi tertentu yang dianggap baik oleh sebagian umat Islam kemudian disebarkan hingga diamalkan secara turun temurun. Padahal jika shalawat-shalawat semacam itu diperhatikan secara cermat, akan nampak berbagai penyimpangan berupa kesyirikan, bid’ah, ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sebagainya.

A. Shalawat Nariyah

Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah, Bid`ah | Leave a Comment »

Hukum meletakkan atau menggantung lafazh “Allâh” dan “Muhammad” shallallâhu `alayhi wa sallam secara berdampingan di dinding dan selainnya

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 29, 2008

Oleh: Fadhîlatusy Syaikh Muhammad bin Shâlih al-`Utsaimîn

Pertanyaan:

Sering kita melihat pada dinding tulisan lafazh jalalah “Allah” dan di sampingnya lafazh “Muhammad” atau terdapat pada buku dan sebagian mushaf. Apakah tempat untuk lafazh ini benar?

Jawaban:

Tempatnya tidak benar. Karena, hal ini berarti menjadikan Nabi shallallahu `alaihi wasallam sebagai tandingan Allah yang sama dengan-Nya. Jika ada orang yang melihat tulisan ini dan ia tidak tahu nama kedua hal itu, ia akan meyakini bahwa kedua hal itu adalah sama dan serupa. Maka, wajib menghilangkan nama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa | Leave a Comment »

Permisalan Istri yang Buruk dalam Al-Qur’ân

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Di akhirat kelak, setiap manusia akan menuai apa yang ia tanam di dunia. Begitu juga seorang istri. Ia akan menerima balasan sesuai dengan amalannya di dunia. Sebagus apapun suaminya, itu tidak akan memperingannya dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setiap muslimah tentu mendambakan dirinya dapat menjadi istri yang baik, istri yang shalihah, yang dipuji sebagai sebaik-baik perhiasan dunia oleh Ar-Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”1 Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Munakahat & Keluarga, Muslimah | Leave a Comment »

Permisalan Wanita yang Baik bagi Insân Berîmân

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Al-Qur`an telah bertutur tentang dua wanita shalihah yang keimanannya telah menancap kokoh di relung kalbunya. Dialah Asiyah bintu Muzahim, istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran. Dua wanita yang kisahnya terukir indah di dalam Al-Qur`an itu merupakan sosok yang perlu diteladani wanita muslimah saat ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِلَّذِيْنَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ. وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِيْنَ

Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika istri Fir’aun berkata: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.” (Perumpamaan yang lain bagi orang-orang beriman adalah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 11-12) Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Munakahat & Keluarga, Muslimah | Leave a Comment »

Pengadilan Terbuka bagi Penghujat Allâh dan Rasûl-Nya

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari

Ali radhiallahu ‘anhu berkata:

لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya yang menjadi tolak ukur di dalam agama ini adalah akal pikiran niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas dua khufnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud di dalam Sunan-nya no. 162. Guru kami, Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Jami’us Shahih Mimma Laisa fish Shahihaini (1/61) Bab Ma Ja’a Fi Dzammi Ra’yi (Bab Tercelanya Mengutamakan Akal Pikiran): “Hadits ini shahih.” Para perawinya adalah perawi kitab Shahih kecuali Abdu Khair, namun dia ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in sebagaimana dinukilkan di dalam kitab Tahdzibut Tahdzib).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Syarah Hadits | Leave a Comment »

Pembatal-pembatal Keîmânan

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al-Ustâdz Abû Hamzah Yûsuf Al-Atsarî

Di negeri kita, banyak sekali terdapat acara ritual persembahan baik berupa makanan atau hewan sembelihan untuk sesuatu yang dianggap keramat. Seperti di daerah pesisir selatan pulau Jawa, banyak masyarakat memiliki tradisi memberikan persembahan kepada “penguasa” laut selatan. Begitupun di tempat lain, yang intinya adalah agar yang “mbau rekso” berkenan memberikan kebaikan bagi masyarakat setempat. Dilihat dari kacamata agama, acara ini sebenarnya sangat berbahaya, karena bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Iman menurut Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki cabang yang banyak. Di antara cabang-cabang iman tersebut ada yang merupakan rukun, ada yang wajib dan ada pula yang mustahab. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Penyimpangan Makna Tauhîd

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 28, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abu Faruq Ayip Syafruddin

Banyaknya praktik kesyirikan yang terjadi di tengah umat menandakan ada yang salah dalam pemahaman umat akan makna tauhid. Terlebih cara memaknainya dilatari sudut pandang kelompoknya masing-masing. Maka yang terjadi tauhid dipahami secara beragam sesuai “selera” masing-masing, kesyirikan bisa dinamakan tauhid dan tauhid malah dihukumi syirik.

Menurut Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam risalahnya, Tsalatsah Al-Ushul, dinyatakan bahwa seagung-agung perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peribadahan. Dan seagung-agung larangan adalah syirik, yaitu menyeru kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bersamaan dengan menyeru (beribadah) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Manhaj | Leave a Comment »

Menyelewengkan Makna Lâ ilâha illallâh, Wujud Penyimpangan Aqîdah

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 27, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Barangkali di antara kita ada yang pernah melontarkan ucapan: “Kenapa sih kita membicarakan permasalahan tauhid terus? Apa tidak ada tema lain yang lebih menarik?” Bagi orang yang belum paham, bisa dimaklumi bila ia mengeluarkan kalimat seperti itu. Namun sangat tidak pantas bila kalimat tersebut muncul dari orang yang telah memahami pentingnya tauhid bagi seorang muslim, yang menunjukkan bahwa ia meremehkan permasalahan yang sangat dijunjung tinggi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para nabi ini.

Telah dimaklumi bahwa poros dakwah para nabi dan rasul, serta sebab mereka diutus adalah untuk tauhidullah (mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam banyak firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Makna Kalimat Tauhîd Lâ Ilâha illallâh

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 26, 2008

Oleh: Ustâdz Hammâd Abû Mu’âwiyah

Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 86)

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah | Leave a Comment »

Fatwa `Ulamâ’ tentang Boneka

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 25, 2008

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-`Uthaimîn at al.

Tanya:

Ada beragam boneka, di antaranya yang terbuat dari kapas yang memiliki kepala, dua tangan, dan dua kaki. Ada pula yang sempurna menyerupai manusia. Ada yang bisa bicara, menangis, atau berjalan. Lalu apa hukum membuat atau membeli boneka semacam itu untuk anak-anak perempuan dalam rangka pengajaran sekaligus hiburan?

Jawab:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjawab: “Boneka yang tidak detail bentuknya menyerupai manusia/makhluk hidup (secara sempurna) namun hanya berbentuk anggota tubuh dan kepala yang tidak begitu jelas maka tidak diragukan kebolehannya dan ini termasuk jenis anak-anakan yang dimainkan Aisyah radhiallahu ‘anha.

Adapun bila boneka itu bentuknya detail, mirip sekali dengan manusia sehingga seakan-akan kita melihat sosok seorang manusia, apalagi bila dapat bergerak atau bersuara, maka ada keraguan di jiwa saya untuk membolehkannya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa, Pendidikan Anak | Leave a Comment »

Antara Menaati Orangtua dan Suami

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 25, 2008

Oleh: Asy-Syaikh Al-`Allâmah Muhammad Nâshiruddîn Al-Albânî

Pertanyaan:

Seorang wanita yang telah menikah dihadapkan pada dua perintah yang berbeda. Kedua orang tuanya memerintahkan suatu perkara mubah, sementara suaminya memerintahkan yang selainnya. Lantas yang mana yang harus ditaatinya, kedua orang tua atau suaminya? Mohon disertakan dalilnya!

Jawab:

Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjawab: “Ia turuti perintah suaminya. Dalilnya adalah seorang wanita ketika masih di bawah perwalian kedua orang tuanya (belum menikah) maka ia wajib menaati keduanya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa Muslimah, Munakahat & Keluarga, Muslimah | Leave a Comment »

Kayu Ajaib

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 25, 2008

Buletin Jum’at Al-Atsariyyah

Mungkin kita biasa melihat atau mendengar istilah “kayu ajaib” dalam cerita fiktif atau realita nyata. Kayu ajaib identiknya digunakan oleh para tukang sihir yang terlaknat. Namun “kayu ajaib” dalam tulisan kali ini adalah kayu siwak yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat.

Diantara keajaiban kayu siwak, ia mengandung banyak zat-zat yang berfungsi bagi kesehatan gigi, dan mengandung aroma yang mengharumkan bau mulut, walau tak memakai sikat gigi. Silakan coba sendiri; banyak kok dijual dimana-mana.

Lebih ajaib lagi, “kayu ajaib” alias siwak ini bisa mendatangkan ridho Allah -Azza wa Jalla-. Subhanallah, alangkah ajaibnya kayu siwak ini. Mudah didapatkan, ringan dibawa, setiap saat bisa digunakan, murah harganya, oh ternyata bisa mendatangkan ridho Allah. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fiqh & Ibadah, Thibbun Nabawi | Leave a Comment »

Safar dengan Keponakan yang Belum Baligh

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 24, 2008

Asy-Syaikh Abû Abdirrahmân Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi`î

Apakah dibolehkan seorang wanita bepergian dari satu negeri ke negeri lain untuk berobat dengan ditemani anak laki-laki dari saudara perempuannya (keponakan) sementara si anak belum mencapai usia baligh?

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullah menjawab:

“Bila si anak telah mumayyiz maka tidak apa-apa (menjadikannya sebagai mahram dalam safar). Umumnya anak yang telah mencapai usia 12 atau 13 tahun, ia telah mumayyiz. Sehingga tidak apa-apa safar bersamanya bila memang aman dari fitnah. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Fatawa, Fatawa Muslimah | Leave a Comment »

Menanti Tanda-tanda Kekuasaan Allâh di Akhir Zaman

Ditulis oleh ahlussunnahternate di/pada Februari 24, 2008

Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُوْنَ

“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah oleh kalian sesungguhnya kamipun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158)

Penjelasan Makna Ayat

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata:

“Pada hari datangnya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Rabbmu, yang merupakan kejadian yang luar biasa, yang dengannya diketahui bahwa kehancuran telah demikian dekat, dan kiamat tidak lama lagi. Maka tidak bermanfaat keimanan dari satu jiwa yang sebelumnya tidak beriman atau yang belum membuahkan kebaikan dalam keimanannya, yakni apabila telah dijumpai sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak bermanfaat keimanan seorang yang kafir apabila dia hendak beriman. Tidak pula bermanfaat bagi seorang mukmin yang kurang beramal untuk semakin bertambah keimanannya setelah itu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aqidah, Tafsir Qur'an | Leave a Comment »